counters

Kamis, 10 September 2015

BBM Premium Langka di Kalbar, Masyarakat Resah

 2 Pekan sudah kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis premium di Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, Provinsi Kalimantan Barat. Hal ini menyebabkan keresahan di masyarakat.

Warga Kabupaten Kayong Utara, Juhaina menuturkan, setiap pagi warga berusaha mencari BBM premium. Kelangkaan BBM premium juga menghambat kerjanya.

"Mencari bensin di sini susah, kalau pun dapat cuma 2 liter saja. Paling bisa 2 sampai 3 hari," keluh Juhaina, saat berbincang dengan Liputan6.com, Kayong Utara, Kalbar, Jumat (26/9/2014).

Hal senada diungkapkan warga lainnya, Adlinus. Kelangkaan premium ini walau pun dia masih mendapatkan premium, namun harga yang ada di tingkat pengecer mencapai Rp 9 ribu hingga Rp 10 ribu per liter.

"Di Telok Melano, ada yang jual Rp 9 ribu. Kalau di tepi jalan, dekat jembatan Melano, harganya bisa sampai Rp 12 ribu," ungkap Adlinus, yang mengaku warga Teluk Melano itu.

Adlinus berharap, kelangkaan BBM pemium ini bisa segera diselesaikan pihak terkait. Sehingga aktivitas masyarakat berjalan lancar.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, hingga saat ini di Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, masih banyak warga yang mengantre BBM premium di kios-kios, khususnya pagi hari. Sedangkan jika mencari premium pada siang atau sore hari dipastikan tidak mendapatkan BBM premium.

Di Kabupaten Kayong Utara sendiri hanya terdapat 1 SPBU di Teluk Batang dan 1 Agen Premium & Minyak Solar (APMS) di Teluk Melano, yang menyediakan kebutuhan BBM.

Sementara di Sukadana SPBU terdekat ada di daerah Siduk, yang sebenarnya sudah masuk Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang. (Mut)





Kelangkaan Daging Sapi Terus Berulang di Tanah Air

JAKARTA—
Sepekan terakhir ini daging sapi di pasar-pasar langka sehingga harga naik signifikan dari sekitar Rp 80 ribu per kilogram menjadi sekitar Rp 130 ribu per kilogram. Kondisi tersebut membuat para pedagang daging sapi mogok berdagang dan akan terus mogok hingga pemerintah menjamin harga daging turun.
Pemerintah melakukan pertemuan-pertemuan dengan para pengusaha importir daging dan meminta pengusahamenurunkan harga agar tidak merugikan pedagang dan konsumen.
Senin lalu di Jakarta, Presiden Joko Widodo mengatakan stok daging dalam negeri cukup namun ada pihak-pihak yang menahan stok yang seharusnya disuplai kepasar-pasar sehingga harga daging terus naik sejak Hari Raya Idul Fitri lalu. Bahkan presiden menilai modus tersebut agar pemerintah membuka impor sapi lebih banyak.
Pemerintah telah mengurangi impor sapi pada triwulan III tahun 2015 dari 200 ribu ekor menjadi 50 ribu ekor dan presiden juga menyampaikan ketidakyakinannya pengusaha akan menurunkan harga jika pemerintah kembali meningkatkan impor. Presiden mengingatkan saat ini pemerintah sedang meneliti dugaan adanya permainan harga daging sapi.
Penegasan Presiden Joko Widodo tersebut ditanggapi Ketua Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indonesia atau Aspidi, Thomas Sembiring. Kepada VoA di Jakarta, Selasa, ia mengatakan seharusnya pemerintah tidak terus menyalahkan pengusaha jika terjadi kelangkaan daging di pasar.
Menurutnya seharusnya pemerintah menambah impor karena stok sapi lokal tidak mencukupi dan langkah tersebut diyakininya membuat para importir menurunkan harga karena suplai dan kebutuhan berimbang.
“Beda cara berpikir pengusaha, kalau sekarang saya jual tinggi, maunya lepas jual harga murah, enak saja, kan supply dan demand, kalau demand tinggi supply terbatas harga naik kan, dia bilang terlalu tinggi harga kalian, kenapa dia bikin supply nya kurang, coba supply nggak dibatasi, berkompetisi antar importir, nah terjadi begini dia bilang importir yang nakal begini, begini, begini”, jelas Thomas Sembiring.
Menurut Thomas Sembiring kebutuhan daging sapi dalam negeri sekitar 650 ribu ton tahun ini namun pemerintah mencatat kebutuhan sekitar 454 ribu ton. Sementara izin impor sekitar 90 ribu ton sehingga ia pesimistis pemerintah mampu mengisi kekurangan stok daging.
Menurut Menteri Perdadangan, Rachmat Gobel untuk mengatasi kelangkaan dagaing di pasar, Perum Bulog akan ditugaskan untuk segera impor daging beku dengan anggaran sekitar Rp 750 milyar. Menteri Perdagangan optimistis dalam operasi pasar Bulog mampu menjual daging sekitar Rp 85 ribu per kilogram.
“Oleh karena itu izin impor itu diberikan kepada Bulog, jadi Buloglah yang harus bertanggungjawab tidak lagi diberikan kepada para pengusaha-pengusaha importir itu, karena kalau diberikan kepada pengusaha importir kayak sekarang ini terjadinya, mereka mengendalikan, mereka tidak mau melepaskan sapi-sapinya dan ini sebetulnya sudah menyalahi kepercayaan pemerintah kepada mereka dan untuk mengatasi sekarang ini Bulog melakukan operasi pasar dan itu sebetulnya kalau mereka menahan, menimbun, itu sudah pidana,” jelas Menteri Rachmat Gobel.
Menko bidang Perekonomian Sofyan Djalil mendukung Bulog ikut membantu mengatasi persoalan daging sapi di dalam negeri. Menko juga mengatakan masalah suplai daging harus dibenahi agar kelangkaan tidak terus berulang.“Itu yang dilakukan oleh Bulog, mereka melakukan intervensi pasar terutama mengatasi kelangkaan yang terjadi di pasar, itu jangka pendek sekali, tetapi jangan menengah dan panjang kita harus bereskan suplainya,” imbuh Menteri Sofyan Djalil.

Beberapa Provinsi di Indonesia Ini Sedang Krisis Air Bersih


Sebagian besar wilayah seperti pulau Jawa, Bali, Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur mengalami defisit air bersih karena pengelolaan sumber daya air yang kurang maksimal dan diperparah dengan populasi penduduk yang terus meningkat.
Pendiri dan pimpinan Indonesia Water Institute, Dr. Ir. Firdaus Ali, M.Sc bahkan mengatakan, kualitas air permukaan mulai mengalami penurunan yang memprihatinkan.
"Diperkirakan kelangkaan sumber daya air bersih akan semakin buruk dengan prediksi musim kemarau berkepanjangan dan curah hujan yang menurun disebabkan oleh gejala penyimpangan pada suhu permukaan air laut di Pasifik atau dikenal sebagai fenomena El Nino di Indonesia," katanya dalam keterangan pers di Jakarta, ditulis Kamis (27/8/2015).
Pulau Jawa misalnya, merupakan pulau dengan defisit kebutuhan air bersih terbesar, yaitu -134.102 juta m3 setiap tahunnya. Hal ini dikarenakan besarnya kebutuhan air bersih penduduk yang melebihi ketersediaan air bersih yang ada.
"Di pulau Jawa, ketersediaan air total 101.160,8 (juta m3). Namun pada musim kemarau hanya ada sekitar 25.290,2 (juta m3) dari kebutuhan total 65.839,1 (juta m3)," katanya.
Sebenarnya, kata dia, pulau Jawa telah mengalami defisit air sebesar 2,809 miliar m3, Sulawesi 9, 232 miliar m3, Bali 7,531 miliar m3 dan Nusa Tenggara Timur 1.343 miliar m3.
Begitupun dengan Pulau Nusa Tenggara. Ketersediaan air total adalah 42.156,0 (juta m3), namun pada musim kemarau hanya tersedia 4.215,6 (juta m3) dari kebutuhan air total 5.760,0 (juta m3). 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar